Sabtu, 28 April 2012

Kolonialisme Barat di Afrika


Afrika adalah benua terbesar kedua di dunia setelah Asia, yang panjangnya dari utara ke selatan sekitar 8.050 km dari jarak terlebarnya dari barat ke timur yang mencapai 7.400 km. dengan luas 30.295.000 km2. Berdasarkan iklim, keadaan tanah dan penduduknya, maka Benua Afrika dapat dibagi menjadi lima bagian yang penting, yaitu:
1)     Daerah – daerah di pantai Utara yang beriklim sedang dan tanahnya yang subur. Penduduknya terdiri atas orang-orang Arab dan orang-orang Berber atau campuran dari keduanya.
2)     Daerah – daerah di Selatan pantai yang berupa padang pasir yang luas seperti Sahara, Libia dan Nubia. Penduduknya terdiri dari campuran antara orang – orang Arab atau Berber, dengan orang – orang Negro Sudan.
3)     Daerah – daerah di Selatan padang pasir yang berupa padang rumput, hutan-hutan dan sungai yang terbentang luas dari Cape Verde sampai ke Sudan. Penduduknya padat namun hanya terdiri dari orang – orang Negro saja.
4)     Daerah – daerah disekita Afrika Tengah, yaitu daerah khatulistiwa yang berhawa tropis dan sangat panas, dengan curah hujannya yang cukup tinggi. Penduduknya adalah juga orang - orang Negro, dan
5)     Daerah – daerah yang paling selatan yang terletak pada Zone sedang. Daerah ini terdiri dari tanah-tanah yang datar, pegunungan dan padang rumput. Penduduknya adalah orang – orang Negro yang terdiri dari berbagai suku, seperti Negro Bantu, Kaffer dan Zulu.

Sampai dengan permulaan abad 19, benua Afrika sebenarnya belum mempunyai daya tarik yang memikat khususnya bagi bangsa - bangsa Barat. Pada saat itu belum ditemukan bukti-bukti tentang kekayaan alam Afrika, sehingga budak ketika itu justru menjadi satu – satunya barang komoditi menguntungkan bagi orang-orang Eropa yang dibeli di pantai-pantai Afrika untuk selanjutnya diperdagangkan. Tidak banyak orang luar sebenarnya ketika itu, yang mengetahui letak sumber emas seperti yang telah ditambang di beberapa daerah di Afrika Barat dan Tengah, kemudian.
Setelah penjelajah Inggris bernama David Livingstone dan Henry Morton Stanley melakukan penjelajahan sekaligus membuka rahasia “benua gelap” itu, maka mulailah bangsa Barat mengenal daerah-daerah di Afrika beserta kekayaan alamnya. Perkembangan industri di negara-negara Eropa, bagaimanapun telah mendorong para pedagang dan petualang atau penjelajah memasuki benua Afrika. Menjelang akhir abad 19, bangsa – bangsa Barat mulai berbondong-bondong datang ke Afrika untuk mencari daerah-daerah yang mempunyai potensi komersial. Dari sinilah sebenarnya dimulai lembaran baru bagi sejarah kelam bangsa – bangsa diluar Eropa khususnya Afrika, yang diwarnai dengan suatu fakta bernama “kolonialisme” dan “imperialisme” bangsa – bangsa Barat.
Sejalan dengan perkembangan industrialisasi di daratan Eropa pada abad 19, yang mendorong bangsa-bangsa di Eropa untuk mencari pangsa pasar dan bahan mentah industri ke luar Eropa, maka dimulailah suatu bentuk awal penjelajahan mereka dengan mengirimkan penjelajah-penjelajah terbaiknya dalam rangka menemukan daerah-daerah baru. Terungkapnya rahasia kekayaan alam Benua Afrika, bagaimanapun adalah berkat jasa D. Livingstone dan H.M. Stanley.
D. Livingstone adalah penjelajah Inggris yang ditugaskan oleh London Missionary Society untuk membuka daerah-daerah perdagangan baru terutama bagi membuka jalan perdagangan ke Lautan Hindia. Pada tahun 1840 ia memulai tugasnya, dan satu tahun kemudian pada tahun 1841 berhasil sampai ke Cape Town Afrika. Secara bertahap D. Livingstone terus melakukan penjelajahan dengan menelusuri Afrika sampai akhirnya pada tahun 1871 ia bertemu dengan H.M. Stanley yang ditugaskan mencarinya. D. Livingstone berhasil menemukan sungai Zambesi, hulu sungai Congo dan daerah-daerah lainnya. Hasil pengalaman penjelajahan D. Livingstone di Afrika inilah yang kemudian ditulisnya dalam buku-buku yang berjudul Missionary Travels in South Afrika (1857) dan The Zambesi and its Tributaries (1865).
Sementara itu H.M. Stanley yang pada awalnya hanya ditugaskan untuk mencari D. Livingstone oleh redaktur harian Amerika Serikat New York Herald James Gordon Bennet pada tahun 1971, ternyata juga berhasil menemukan seluruh aliran sungai Congo sampai ke Lautan Atlantik. Hasil pengalamannya juga dikisahkan dalam buku-buku terkenalnya berjudul Through The Dark Continent (1878) dan The Congo (1885). Buku-buku yang ditulis berdasarkan pengalaman D. Livingstone dan H.M. Stanley tersebutlah sebanarnya yang telah  membuka pengetahuan bangsa – bangsa Barat tentang “benua gelap” Afrika. Benua itu ternyata menyimpan kekayaan alam yang melimpah bahkan yang sangat penting bagi perindustrian Barat.
Bangsa Barat mulai berdatangan ke Benua Afrika. Orang Belgia, Jerman, dan Italia telah datang ke Afrika dengan maksud untuk memperoleh tanah, sedangkan bangsa – bangsa Barat yang telah memiliki daerah – daerah koloninya di Afrika justru berusaha untuk semakin memperluas wilayah koloninya hingga ke pedalaman Afrika.
Dalam sejarah pembentukan imperium bangsa – bangsa Barat di Afrika, maka para pedagang dan penjelajahlah adalah makhluk yang paling berperan. Akan tetapi satuhal yang aneh adalah kenyataan bahwa semula para pedagang ini hanya bertujuan untuk mencari keuntungan, sebaliknya para penjelajah pada awalnya hanya mencari dan membuktikan ilmu pengetahuan, tetapi setelah mereka sampai di daerah tujuan,  mereka justru telah tinggal di situ dan bahkan menancapkan bendera bangsanya masing-masing, mengklaim bahwa daerah tersebut dalah daerah kekuasaannya yang seolah-olah telah mereka warisi secara takdir.
Dibalik konteks yang demikian itu, Afrika sesungguhnya juga  mempunyai arti yang penting bagi bangsa –bangsa Barat karena potensi yang sangat strategis khususnya bagi prospek industrialisasi Eropa yang sedang mengalami kemajuan pada abad 19. Potensi-potensi tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
a)     Afrika mempunyai potensi kekayaan alam komersial berupa bahan-bahan mentah yang vital dan strategis untuk kepentingan industri. Afrika Selatan misalnya, ternyata adalah pemilik 66% cadangan emas dunia, platium (35%) dan bahan mineral lainnya. Namibia adalah negeri yang kaya akan uranium, intan, timah, perak dan seng. Demikian pula Zaire yang kaya akan tembaga, kobalt dan intan. Zambia kaya tembaga dan Zimbabwe kaya akan kroom.
b)     Kawasan Afrika Utara yang ditakdirkan terletak di Laut Tengah, ternyata mempunyai posisi yang sangat strategis, terutama setelah terusan Suez dibuka pada tahun 1869. Kawasan ini menjadi jalur penghubung yang praktis ke dan dari Eropa dengan berbagai negara.
c)      Afrika Selatan, selain kaya akan tambang juga menjadi jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan dari dan ke Eropa. Diantaranya adalah sebagai jalur pelayaran untuk mengangkut minyak dan bahan mentah ke negara-negara industri Eropa pada abad 19, sehingga jalur ini menjadi urat nadi bangsa Barat.
d)     Di Afrika tersedia tenaga kerja yang murah. Berpuluh-puluh juta budak sepanjang sejarah telah diangkut ke Amerika dan Eropa untuk dijadikan tenaga kerja pertambangan, perkebunan dan industri strategis.
e)     Benua Afrika yang luas dengan jumlah penduduknya yang sedikit sudah barang tentu dapat diharapkan menjadi tempat untuk memindahkan penduduk – penduduk Eropa.

Potensi-potensi yang dimiliki Afrika inilah kemudian yang telah mendorong bangsa – bangsa Barat untuk saling mengusai daerah-daerah Afrika, hingga akhirnya terjadi persaingan diantara mereka yang tidak jarang justru berujung pada terjadinya konflik dan krisis di berbagai daerah di Afrika, selain yang pasti adalah menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat Afrika itu sendiri.
Hampir seluruh wilayah Afrika dapat dikatakan telah menjadi sasaran bangsa Barat. Mereka datang untuk memenuhi kebutuhan negaranya masing-masing. Afrika Utara menjadi sasaran bangsa Spanyol, Italia, Prancis, Inggris dan Jerman. Mereka bermaksud menguasai jalur perdagangan yang ramai dengan membangun fasilitas perdagangan seperti pelabuhan.
Afrika Barat menjadi sasaran bangsa Inggris dan Prancis. Selain untuk menguasai jalur lalulintas perdagangan mereka juga bermaksud menguasai perdagangan budak. Demikian pula dengan Afrika Selatan yang menjadi sasaran bangsa Inggris dan Jerman, selain karena kekayaan alam juga karena letaknya yang strategis untuk kepentingan industri, yaitu sebagai pangsa pasar. Sementara itu Afrika Timur yang tidak begitu menarik minat bangsa Barat karena tidak banyak memiliki potensi alam yang komersial, juga karena letaknya tidak strategis dan tidak terdapat kota-kota besar.
Di beberapa daerah di Afrika timbul konflik antar negara – negara Barat karena mereka memiliki kepentingan yang berbeda di satu wilayah, misalnya di Mesir, Sudan, Fasoda dan Maroko.
Berikut adalah bukti tentang wilayah – wilayah kekuasaan bangsa Barat di Afrika pada tahun 1920 :
  1. Belgia, menguasai Congo, Rwanda-Burundi.
  2. Prancis, menguasai Aljazair, Cameroon, Somali, Afrika Barat, Madagaskar, Maroko, Togo dan Tunisia.
  3. Inggris adalah negara Barat yang paling banyak dan luas wilayah kekuasaanya, mereka menguasai Tanah Basuto, tanah Bechuana, Cameroon, Somali, Mesir, Gambia, Pantai Mas, Kenya, Nigeria, Rhodesia Utara dan Selatan, Tanah Nyasa, Tanah Swazi, Sudan, Uganda, Zanzibar, Afrika Selatan dan Afrika Barat daya.
  4. Italia menguasai wilayah Libia, Eritrea dan Somali.
  5. Portugal, menguasai Angola, Mozambique, Guinea dan Afrika Selatan, dan terakhir adalah
  6. Spanyol, dengan menguasai wilayah Ifni, Rio de Oro, Guinea dan Maroko.
Hampir semua daerah di Afrika sejak tahun 1914 pada pripsipnya telah menjadi sasaran kekuasaan bangsa – bangsa Barat, kecuali Afrika Timur karena tidak memiliki banyak potensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar