Sabtu, 28 April 2012

KOLONIALISME DAN IMPERIALISME


1. Imperialisme
Istilah imperialisme diperkenalkan pertamakali adalah di Perancis pada tahun 1830-an, suatu kata atau istilah yang merujuk kepada “imperium Napoleon Bonaparte”. Ketika itu, istilah ini diperkenalkan oleh seorang penulis Inggris untuk menerangkan dasar-dasar perluasan kekuasaan yang dilakukan oleh Kerajaan Inggris. Orang Inggris ketika itu beranggapan bahwa merekalah sebenarnya bangsa yang paling berkuasa (Greater Britain), karena mereka pada kenyataannya telah banyak menguasai dan menjajah di wilayah – wilayah diluar Eropa semisal Asia dan Afrika. Mereka menganggap bahwa penjajahan pada dasarnya adalah bertujuan mulia, yaitu untuk memajukan dan membangun masyarakat diluar Eropa yang pada saat itu dipandang masih terbelakang (primitif), dan oleh karenya penjajahan menurut mnereka adalah untuk kebaikan dunia.
Konsep “Imperialisme” sebenarnya merujuk pada suatu sistem pemerintahan serta hubungan ekonomi dan politik dari negara-negara kaya dan berkuasa , untuk mengawal dan menguasai negara – negara diluar Eropa yang dianggap terbelakang dan miskin. Akan tetapi sayangnya kata “imperialisme” pada kenyataannya juga tidak terlepas dengan tujuan untuk mengeksploitasi sumber-sumber yang ada di negara - negara luar Eropa tersebut untuk menambah kekayaan dan kekuasaan negara penjajahnya. Imperialisme dalam prakteknya justru menonjolkan sifat-sifat keunggulan (hegemony) oleh suatu bangsa atas bangsa lain, sehingga  pada prinsipnya tujuan utama imperialisme itu sendiri adalah untuk menambah hasil ekonomi atau kekayaan bagi negeri penjajah (Gold). Negara-negara imperialis pada kenyataannya justru hanya ingin memperoleh keuntungan dari negeri – negeri yang mereka kuasai. Selain faktor ekonomi, kaum imperialis juga terdorong oleh satu kepercayaan atau anggapan bahwa suatu bangsa tertentu adalah lebih mulia atau lebih baik kedudukannya di muka bumi dari pada bangsa yang lain,  atau yang disebut dengan  istilah “ethnosentrism”. Bangsa Jerman (Arya), Jepang, dan Italia adalah diantara contoh bangsa-bangsa didunia yang menganut pandangan tersebut. Faktor lain yang menyumbang pada dikembangkannya konsep “imperialisme” adalah, adanya perasaan dari suatu bangsa yang ingin mencapai taraf sebagai bangsa yang besar dan memerintah dunia, Inggris dan juga Jepang adalah contoh terbaik yang membangun dasar imperialisme mereka dari pandangan yang seperti itu.
Akhirnya memang patut pula dipertimbangkan bahwa dasar imperialisme pada awalnya adalah bertujuan untuk menyebarkan ide-ide dan kebudayaan Barat yang dianggap lebih baik itu ke seluruh dunia. Oleh karena itulah, ada konsep yang meyakini bahwa imperialisme bukan hanya dapat dilihat sebagai bentuk penindasan terhadap tanah jajahan tetapi sebaliknya dapat pula dipandang sebagai faktor pendorong bagi pembaharuan-pembaharuan yang dapat menyumbang kearah pembinaan dan kemajuan sebuah bangsa, seperti pendidikan, kesehatan, perundang-undangan dan sistem pemerintahan, misalnya.
Para sejarawan Barat cenderung membagi imperialisme dalam dua kategori yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern. Imperialisme kuno adalah konsep yang bermuara kepada negara-negara yang berhasil menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau bahkan negara -negara yang mempunyai suatu imperium besar seperti halnya imperium Romawi, Imperium Turki Usmani, dan China, spanyol, Portugis, Belanda, Inggris bahkan Perancis yang belakangan memperoleh jajahannya di Asia, Amerika dan Afrika sebelum 1870. Dengan demikian dapatlah digambarkan bahwa tujuan imperialisme kuno, pada dasarnya adalah selain faktor ekonomi yaitu untuk menguasai daerah – daerah yang kaya dengan sumber daya alam, juga termasuk didalamnya faktor untuk penyebaran agama dan memperoleh kajayaan negara.
Sedangkan Imperialisme modern, pada umumnya bermula setelah Revolusi Industri yang awalnya terjadi di Inggris pada tahun 1870-an. Hal yang menjadi faktor pendorong berubahnya konsep atau pandangan tentang imperialisme kuno ke bentuk imperialisme modern, adalah adanya kelebihan modal dan barang (surplus produksi) di negara-negara Barat. Selepas tahun 1870-an , maka negara – negara di Eropa selanjutnya berlomba-lomba mencari daerah jajahan di wilayah Asia, Amerika dan Afrika. Mereka mencari wilayah jajahan sebagai wilayah untuk penyuplai bahan baku dan juga sebagai daerah pemasaran hasil –hasil industri mereka.
Dasar Imperialisme inilah kemudian yang dilaksanakan demi alasan agama, mereka menganggap bahwa telah menjadi tugas suci bagi seorang pemeluk agama untuk menyelamatkan manusia dari segala macam penindasan dan ketidakadilan, terutama di negara-negara yang dianggap terbelakang. Para misionaris Kristen adalah contoh yang menganggap misi penyelamat ini sebagai The White Man Burden. Tetapi tetap saja bahwa diantara faktor-faktor terpenting yang melatar belakangi munculnya imperialisme adalah faktor ekonomi.

2. Kolonialisme
Kata koloni seringkali merupakan kata yang merujuk kepada sebutan “negeri”, atau jebih jauh adalah kata yang sepadan untuk menyebut tanah jajahan yang dikuasai oleh sebuah kekuasaan asing. Koloni adalah satu kawasan diluar wilayah negara asal atau induk. Tujuan utama kolonialisme pada dasarnya adalah juga untuki menjalankan kepentingan ekonomi. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan wilayah-wilayah yang dikolonikan (menjadi koloni) adalah wilayah-wilayah yang yang kaya akan bahan mentah, keperluan untuk mendapatkan bahan mentah seperti itu pada dasarnya adalah dampak dari terjadinya Revolusi Industri di Inggris tersebut.
Istilah kolonialisme bermaksud untuk memaksakan satu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk mendapatkan sebuah wilayah jajahan, baik melalui paksaan atau juga dengan cara damai. Usaha untuk mendapatkan wilayah biasanya para kolonial cenderung melalui penaklukan (karena memang pada dasarnya tidak ada satu bangsapun yang rela negaranya dijadikan wilayah koloni oleh bangsa asing). Penaklukan atas sebuah wilayah, memang bisa saja dilakukan secara damai atau paksaan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada mulanya mereka para pengkoloni membeli barang - barang dagangan yang mereka perlukan dari para penguasa lokal, untuk memastikan pasokan barang dapat berjalan lancar. Tetapi kemudian mereka mulai melakukan campur tangan dalam urusan – urusan pemerintahan penguasa setempat, dan pada akhirnya mereka juga akan berusaha untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai tanah jajahan mereka. Negara yang menjajah menggariskan panduan atau aturan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi aspek kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.
Sejarah perkembangan kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari
Portugis berlayar ke india pada tahun 1498. Di awali dengan pencarian jalan ke Timur untuk mencari sumber rempah-rempah, maka  dimulailah suatu perlombaan mencari tanah jajahan. Bangsa Barat seperti Portugis dan Spanyol adalah dedengkotnya kolonialisme, yang diikuti kemudian oleh Inggris dan Belanda. Penguasaan wilayah yang pada awalnya hanya untuk kepentingan ekonomi, akhirnya juga beralih menjadi penguasaan atau penjajahan dalam bentuk politik, yaitu campur tangan untuk menyelesaikan pertikaian, perang saudara, dan sebagainya. Hal ini dimuknkan terutama karena para penguasa kolonial tersebut ingin juga menjaga dan melindungi kepentingan - kepentingan perdagangan mereka daripada pergolakan politik lokal yang bisa saja mengganggu kelancaran perdagangan mereka.
Kolonialisme dapat dikatakan berkembang pesat setelah perang dunia I. Sejarah kolonialisme bangsa-bangsa Eropa dibagi dalam tiga masa yang penting, yaitu :
a)     Dari abad ke 15 hingga Revolusi industri (1763) yang memperlihatkan kemunculan kekuasaan bangsa-bangsa Eropa seperti halnya Spanyol dan Portugis.
b)     Kedua, setelah Revolusi Industri hingga tahun 1870-an, dan
c)       Ketiga, dari tahun 1870-an hingga tahun 1914 ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak dari pertikaian kuasa-kuasa imperialis di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar